Pohon Kurma yang ditanam mendiang Mbah Putri

Pohon Kurma yang ditanam mendiang Mbah Putri

Empat hari menjelang lebaran kemarin, kami pulang ke Simo. Agenda utama kami adalah untuk menengok Mbah Kakung dan Nyadran/Tilik Kubur-nya Mbah Putri, Mbak Isti dan Mas Wasid. Selain itu kami maksudkan utk merasakan suasana puasa romadlon di kampung halaman dan bersih2, merapikan rumah masa kecil kami menjelang lebaran. Saat Lebaran, rumah kami biasanya akan ramai oleh kehadiran anak cucu Muh Masroeri yang kami sebut mrc. Oleh karena itu biasanya keluarga yang dekat dengan rumah Simo pada menyempatkan pulang terlebih dahulu untuk mempersiapkan segala sesuatunya menghadapai Lebaran, baik dari kebersihan sampai dengan persiapan logistiknya. Maklum kami memang keluarga besar.

****

Seperi tahun2 sebelumnya, kebiasaan utk bisa menikmati suasana romadlon memang selalu kami sempatkan barang 1-2 hari. Secara pribadi itu merupakan bagian dari bernostalgia, mengenang lagi masa2 kecil dimana setiap bulan romadlon suasananya begitu menyenangkan. Secara keluarga, merupakan bentuk silaturrahmi dan menikmati suasana yang lain dari biasanya serta pembelajaran bagi kami sekeluarga.
Minggu dini hari menjelang waktu Sahur, kami tiba di rumah Simo. Suasana diluar cukup semarak oleh aktivitas remaja masjid. Pada waktu menjelang sahur, para remaja dengan bersemangat membangunkan masing2 keluarga dengan bunyi-bunyian yang berirama sambil berkeliling kampung. Suasana demikian memang tidak pernah kami rasakan di lingkungan kampung kami saat ini.
Setelah makan sahur dan sholat subuh di masjid Baiturrahman yang berjarak 100 meter dari rumah, saya langsung tidur, sementara mas Fikri dan mamanya sudah pulas semenjak di perjalanan. Isteri saya memang sengaja tidak makan sahur karena ketika berangkat dari Semarang sudah menyempatkan makan sahur terlebih dahulu untuk antisipasi kalau tidak sempat makan Sahur di Simo karena ngantuk dan capek.
Menjelang siang, kami mulai bersih-bersih dan merapikan rumah, sementara mas Fikri asyik bermain sambil menonton TV.

@@@@

Sore harinya ketika kami masih asyik dengan aktivitas bersih-bersih, tiba-tiba ada tamu yang menemui saya disamping rumah. Tanpa berbasa basi, tamu itu langsung menanyakan apakah pohon kurma yang berada di sudut selatan depan rumah kami dijual. Sejenak saya tertegun dan baru menyadari bahwa pohon yang mirip dengan palm tersebut ternyata adalah pohon kurma. Sekedar ingin tahu..kemudian saya tanyakan dengan harga berapa tamu itu mau membelinya. Tamu itu kemudian menjawab “300 ribu” dan akan memberi ganti dengan pohon kurma yang masih kecil.
Mengingat pohon kurma itu adalah pohon kurma kedua yang ditanam oleh mendiang Mbah Putri, maka saya tolak tawaran dari tamu itu.
Memang sebelumnya Mbah Putri juga pernah menanam pohon kurma dengan cara menyebar biji kurma di halaman belakang rumah. Dari beberapa biji tersebut ternyata ada satu yang tumbuh dan dirawat sampai diameter batangnya kurang lebih sekitar 60 cm.
Pada waktu itu juga ada beberapa orang yang ingin membelinya dengan alasan yang bermacam2. Padahal pohon kurma itu tumbuh di belakang rumah, artinya tidak mudah terlihat oleh orang yang lewat. Karena merupakan tanaman yang langka, maka waktu itu kami anak-anaknya meminta kepada orang tua kami utk tidak menghiraukan tawaran dari pembeli.
Namun setelah kedua orang tua kami diberi kesempatan untuk menunaikan Ibadah Haji pada tahun 1996 dan bisa melihat secara langsung pohon Kurma di tanah Arab, pada akhirnya pohon kurma itu di jual dengan harga 750ribu. Itupun setelah pembelinya begitu rajin menawar dan mendatangi kedua orang tua kami, meskipun sebenarnya kami anak2nya menyayangkan keputusan itu.
Mungkin karena itu, mendiang Mbah Putri kemudian berusaha untuk menanam pohon Kurma lagi sebagai gantinya. Alhamdulillah ternyata pohon Kurma yang disemai dari biji oleh mendiang Mbah Putri pada waktu itu, hingga sekarang tumbuh semakin besar dan menghiasi sudut depan halaman rumah Simo kami.

&&&&

Nilai Spiritual yang bisa menjadi inspirasi kami dari apa yang telah dilakukan oleh mendiang Mbah Putri dengan Pohon Kurmanya adalah :

“Betapa Ibu kami, Mbah Putri, Pepunden kami adalah sosok orang tua yang begitu gigih dan penuh semangat dalam berusaha. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilannya menanam dan merawat pohon Kurma yang nota bene merupakan tanaman langka di Indonesia dan tidak semua orang bisa melakukannya”
Mudah-mudahan kami anak cucunya bisa merawat dan menjaga Pohon Kurma tersebut sebagai pengingat serta mewarisi semangat dan kegigihan Orang Tua kami, Simbah kami, Pepunden kami, dalam menghadapi & menjalani kehidupan ini. Amin

Itulah kalimat dalam bahasa inggris yang pertama kali aku tulis di lembaran buku tulisku, di lembaran sobekan kertas, di dinding kamarku, atau di mana saja layaknya sebuah graffiti, saat itu saat dimana aku masih ingusan. Bukan kalimat “I love you” atau kalimat cinta dalam bahasa inggris yang lainnya, yang pada umumnya banyak dituliskan atau digoreskan oleh anak2 seusiaku pada saat itu.
Biasanya, tulisan itu aku buat dengan model dan design yang khusus, agar terlihat mencolok dan bagus.
Kalimat itulah yang menginspirasi diriku saat itu untuk belajar atau menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh serta tidak mau ketinggalan dengan teman2 yang lain dalam hal-hal baru. Dan sosok yang mempengaruhi dan menjadi isnpirasi pada masa kecilku adalah mas Bowo.
Layaknya sebagai sebuah agen perubahan, mas Bowo memang banyak sekali mengenalkan aku dengan hal-hal baru yang oleh anak2 desa pada saat itu adalah sesuatu yang tidak mudah mendapatkannya.
Mas Bowolah yang selalu mengajak aku belajar dengan konsentrasi penuh, bahkan untuk yang satu ini minum Cerebrovit adalah kebiasaannya yang dilakukan pada saat mau belajar. Mengenalkan aku membaca Koran, belajar naik sepeda motor dengan Honda C70, mendengarkan lagunya Iwan Fals dalam album Perjalanan, lagunya Chandra Darusman, atau mengenalkan aku dengan mainan baru yang tidak biasa dimainkan oleh anak-anak di desaku pada saat itu, seperti main scrable, magic box, sepatu roda, dsb. Banyak sekali hal-hal atau pengetahuan baru yang aku peroleh dari mas Bowo, dan salah satunya adalah motonya orang bule yang aku tulis sebagai judul postingan ini.
Ilmu Pengetahuan adalah Kekuasaan, begitulah arti yang aku pahami pada saat itu setelah dikasih tahu tentunya. Terjemahan bebasnya kurang lebih: dengan menguasai ilmu pengetahuan maka kita akan mempunyai kekuasaan atau kekuatan. Sejak saat itu hingga sekarang ini, rangkaian kalimat itu memang telah menginspirasi dan memberi motivasi aku untuk belajar, bukan hanya sekedar belajar dari arti formal, tetapi belajar dalam lingkup yang lebih luas, belajar untuk kehidupan lebih baik.
Belajar atau menuntut ilmu agar tidak terkungkung layaknya katak dalam tempurung. Belajar untuk bisa setara atau lebih baik dari orang lain. Belajar untuk tidak “meremehkan atau diremehkan” oleh orang lain. Belajar agar eksistensi/keberadaan kita diakui, dimanapun kita berada.
Bahkan agama kita pun mewajibkan kita untuk belajar/menuntut ilmu dengan tidak mengenal batasan ruang dan waktu sebagaimana Hadist Nabi Muhammad SAW : “Tuntutlah Ilmu hingga ke negeri China” dan “Menuntut Ilmu itu hukumnya wajib bagi umat Islam sejak dari buaian hingga liang lahat”. Melalui hadist tersebut, Rasulullah telah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa belajar/menuntut ilmu tanpa mengenal batasan ruang dan waktu (baca: usia) sampai kita menutup mata untuk kembali kepada-Nya.
Artinya, semangat untuk belajar/menuntut ilmu adalah hal yang mendasar yang telah diperintahkan oleh Rasulullah kepada kita. Itulah yang aku yakini mengapa orang tua kita, simbah kita tercinta begitu gigihnya untuk bisa membekali anak2nya dengan Ilmu dan memotivasi cucu2nya agar sekolah/kuliah/belajar dengan benar dan bertanggung jawab, tetap fokus meski berhadapan dengan keterbatasan finansial atau dengan kata lain pas-pasan. Meski secara finansial kita kekurangan disana-sini, tetapi semangat untuk belajar jangan pernah sampai kekurangan atau hilang sama sekali.
Tahun ini adalah tahun dimana generasi pertama dari Mbah Roeri telah berhasil memasuki babak baru dalam mengenyam pendidikan formal S2. Adalah Lilik dan Yanuar, meski melalui jalan atau fasilitas yang berbeda. Pada saatnya nanti bukan tidak mungkin bila anggota keluarga dari Mbah Roeri Community yang lain akan bisa belajar di luar negeri seperti yang pernah dirasakan oleh Jabirosidik, atau bekerja di luar negeri seperti Agus Cahyono sekarang ini.
Aku sendiri dulu pernah berusaha untuk bisa ke jenjang pendidikan S2, hanya saja dengan cara menggabungkan S1 + S1 (ha ha ha), alias belajar untuk jenjang S1 di dua universitas yang berbeda, sayang pada akhirnya dengan sendirinya aku harus mengundurkan diri dari UGM oleh karena keterbatasanku.
Tulisan ini memang aku khususkan kepada orang-orang yang tidak pernah mengenal lelah untuk belajar, orang yang selalu menjaga spiritnya untuk tetap bisa menuntut ilmu dan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, orang-orang yang tidak ingin ketinggalan dan ditinggalkan peradaban, orang-orang yang dengan ilmunya itu bermanfaat dan memberi manfaat bagi orang-orang dilingkungannya.
Untuk Yanuar dan Lilik, selamat atas keberhasilannya meneruskan jenjang pendidikan S2-nya. Demikian pula untuk Mbak Sih yang dengan semangatnya sedang berusaha menyelesaikan S1, disaat usia sudah tidak muda lagi.
Dan untuk generasi muda MRC, selamat bagi yang naik kelas, profisiat (pf) bagi yang memasuki jenjang pendidikan lebih tinggi, jaga semangat bagi yang sedang mengejar target. Marilah kita semangati diri kita sejak dini untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan dapat dipertanggung jawabkan, agar nantinya kita bisa berhasil dalam pendidikan maupun dalam kehidupan.
Bukankah Knowledge is Power????

Dikunjungi

  • 4,263 kali

Umpan Balik

Artikel Lama