Mb@h Roeri Community

Aku, Keluargaku & Jakarta-ku

Hari Minggu kemaren, kota tempat aku numpang hidup (Nyo’on Oddih) dan tempat kelahiran anak anak-ku Ulang Tahun yang ke-481.
Ingatanku jauh melambung ke masa 481 tahun yang lalu dan teringat dua orang yang sama-sama berkarakter yaitu Yan Pieter Soen Coen dan Pangeran Jayakarta, sungguh, keduanya mempunyai kesamaan dengan namaku, Yan uar (Yanuar : Jaguar : Macan : Harimau), mereka membuat kota Batavia (Betawi) ini sebagai pusat kota perdagangan dari pada Vereniging Ost Indische Compagnie (VOC), dan terus berkembang hingga hari ini, sampai dimana aku terdampar di rumah kontrakan di kawasan Kebon Singkong – Klender – Jakarta Timur ini.
Ya, di rumah petak kontrakan di kebon singkong ini kedua anak-ku dilahirkan, mereka lahir di antara sempitnya kota Metropolitan, yang paradoksal sekali dengan keberadaan kedua orang tuanya, yang sama-sama dilahirkan di pelosok desa, yaitu Simo dan Manjung yang merupakan belantara hutan semak belukar, padang ilalang luas, tanah tandus dan kering serta miskin.
Di Akta kelahiran mereka tercatat, tempat lahir : Jakarta !
Aku pernah membaca tulisan Gendis di buku hariannya : “meski rumahku sempit dan jelek, aku senang tinggal di dalamnya” ….bahkan waktu Gendis duduk di bangku TK ia sering menyanyikan Bunga Nusa Indah …..!!
Jujur saja, aku sebagai Bapaknya sering menangis terharu dibuatnya, bahkan ketika aku menulis posting inipun aku sambil mbrebes mili …….
Ya…. ini sebuah kenyataan yang harus dijalani, bahkan aku katakan pada anak-anak : agar mereka tetap selalu gembira dan penuh rasa syukur !
Karena ayah dan ibunya adalah orang yang mandiri, tidak tergantung pada orang lain dan meskipun hidup di rumah kontrakan kecil dan jelek, kita masih bisa belajar, bermain serta punya kampung (ya, pulang kampung sebagai perwujudan birrul walidain aku tanamkan sejak kecil !) sebagaimana itu dijalani oleh ayahnya sendiri yaitu aku sendiri. Meskipun keberadaanku dimanapun ??? seingat-ku, aku selalu pulang kampung yang pertama.
Aku juga ajarkan pada anak keturunanku agar memelihara komitmen pada keluarga terutama orang tua. Dalam kondisi yang sesulit apapun, dimata orang tua dan keluarga di kampung, kita harus menampakkan kegembiraan dan penuh kesyukuran itu.
Terhadap yang serba pertama, aku juga tanamkan pada anak2ku bahwa Bapaknya ini, adalah :
1. Orang yang selalu bangun pagi yang pertama (kebiasaanku sejak kecil dan sampai sekarang).
2. membasuh muka dan membasahi kepala dengan air pertama.
3. selalu dan berusaha untuk yang pertama pulang kampung (sillaturrahim pada orang tua dan saudara-saudara)
4. Dalam keluarga Mbah Masroeri, seingat-ku akulah orang yang pertama punya HP (Hand Phone, yang kala itu masih barang langka) bahkan mendahului Lek Muchtar yang kerja di Telkom sekalipun. Juga Lek jabir, yang kala itu Pegawai bank. Bahkan aku juga lah yang paling sering gonta-ganti nomor HP. Maklum sering kecopetan karena ketiduran di Bis kota atau kereta, atau bis umum, atau sudah banyak HP yang aku wariskan pada sedulur2 ku.
5. Aku juga lah dari keluarga Mbah Simo, yang pertama hidup di Jakarta dan membangun keluarga, kalau bahasa Jawanya : Pecah Telur…..Mungkin yang lain pernah lebih duluan, Lek Jabir barangkali, tapi kan hanya bekerja saja bukan berkeluarga ? atau yang lainnya ?
Dalam mencari kekayaan, aku selalu ingat pesan Mbah Kakung Simo (Mbah Roeri ) : “Le, Yen kowe munggah kaji, tukuo emas sing apik-apik, neng Medinah akeh banget”. (Tampak, Mbah Kakung optimis banget yen aku bakal Haji lan bakal nduwe dhuwit akeh, ini yang menyemangati aku untuk gigih bekerja dan nyeker-nyeker ngupoyo upo, ngupoyo arto, ngupoyo bondo, ngupoyo donyo kanggo ngupoyo kasampurnaning agomo)
Dalam semangat dan perjuangan hidup, aku selalu diingatkan oleh pesan dan (Motivasi) dari Mbah Putri Simo (Suwargi) yang merupakan kata-kata terakhir simbah kepada aku, Hening dan anak-anakku : “Golek Rejeki Akeh ora popo, sing penting kudu tetep Halal, yo ….!” kata-kata itu juga didengar Lek Prapti, bojone Lek Jabir.
Entah, mengapa Mbah Kakung dan Mbah Putri Simo sangat optimis dengan masa depanku. Mbah kakung Nggunung saja selalu memperingatkan aku bahwa :
Lahirmu : Sloso Wage : Hitungan paling sedikit
Wuku : Gumbreg : Brangasan : Keras Kepala : Kewanen : Terlalu Pemberani.
Rejekine : Netes : sedikit sedikit. dadi ora Biso dadi wong sugieh.
Lha ???
Yang jelas, saat ini aku masih saja nyeker-nyeker sendirian di belantara Jakarta yang Ganas ini.
Tapi, terima kasih Gusti Allah yang telah memberikan aku kesempatan untuk berada dalam dekapan Jakarta, Ibukota negara Indonesia.
Ada wangi Parfum Polo
Ada baju Stanley Adams
Ada celana Levi Strauss
Ada Sepatu sport Adidas
Ada jam tangan Swiss Expedition
Ada sepatu pantopel dr. Mocc
Ada sepatu kulit Piere Cardin (baca : Piee Kadong)
Ada amis aroma got
Ada pesing jengkol
Ada nasi uduk pete goreng
Ada macet seribu macet
Ribuan Mall
Ribuan Surga Dunia
Ribuan Neraka Dunia
Selamat Ulang tahun Jakarta-ku.
Aku menerima mu apa adanya kok.
Maka terimalah aku apa adanya juga…

(ditulis dlm mangayu bagyo ultah jakarta ke-481)

Komentar ditutup.