Mb@h Roeri Community

Njiwani & Njawani

Kaweruh keslametan diri
Sasanti kapribaden poro leluhur
Sugih tanpo bondho
Digdoyo tanpo aji
Nglurug tanpo bolo
Menang tanpo ngasorake
Timah mawi pamrih
Suwung pamrih tebih ajrih
Langgeng tan ono susah
Langgeng tan ono bungah
anteng mantheng sugeng jeneng
(Pambukane serat “Centhini” karya Raden Ngabehi Yosodipuro I)
Terjemahan bebasnya kira kira :
Pengetahuan tentang keselamatan diri
Yang dituturkan dan menjadi kepribadian para leluhur adalah :
Kaya tapi bukan lantaran harta,
Berkuasa tapi tidak dengan senjata,
Mengembara tanpa bantuan siapapun,
Memenangi perjuangan tanpa menistakan orang lain.
Berbuat tidak karena pamrih/ingin di anggap berjasa dan,
Berani berbuat tanpa rasa takut.
Selamanya tidak pernah berputus asa,
Selamanya pula tidak berbesar kepala.
Tapi selalu bertahan dan berjuang untuk menjaga martabat dan kehormatan.

Sejak menjadi aktivis dulu (di HMI dan di Kampus), saya dikenal sebagai seorang Ideolog yang gemar merombak, mengobrak abrik, ngadul adul, memporak porandakan pikiran orang (brain washing) untuk selanjutnya memasukkan kembali ideologi yang selama ini aku yakini dan aku pegang sebagai pedoman moral, pedoman nilai dan pedoman aktivitas keseharian (brain storming). Dan sampai sekarang aku meyakini ideologi itu masih bisa bertahan, lentur luwes dan peka terhadap perubahan dan perkembangan jaman.
Aku memang tidak jualan ideologi, karena ideologi adalah hak asasi. Aku juga tidak sedang meng-iklan-kan ideologi. Karena ideologi apapun boleh dianut siapapun ?? bahkan aku juga tidak dongkol jika orang memandangku ber-ideologi :
Otak : Sosialis
Perut : Kapitalis
Tulisan Inipun juga tidak dimaksudkan untuk melakukan brain washing alias men-cuci otak siapapun. Saya hanya ingin katakan setidaknya sejak di bangku SMA dulu (intelektualitas-ku terlahir) sampai hari ini saya masih Istiqomah dengan apa yang aku yakini itu. Dan aku bukan termasuk orang bermasalah, yang senang cari masalah, apa lagi jadi masalah. Aku cukup jadi orang biasa saja, I’m Just an ordinary man.
Dari beberapa posting selama ini, terkadang aku menggunakan :
Ayat-ayat Al Qur’an
Sunnah dan Hadist
Filosofi Romawi Kuno
Filosofi China/Tiongkok
Kata kata pinjaman dari Sukarno,
Syair lagu Rhoma Irama
Puisi WS. Rendra
Tetralogi Laskar Pelangi
Syair lagu Dhani Ahmad
Kutipan buku buku terkenal
Kutipan tokoh tokoh populer
Puisi Khairil Anwar
Serat kejawen
Ilmu titen, dan lain lainnya
bahkan juga dari banyolan banyolan nggak karuan rimbanya ….

Tentu saja ini bukan “Panacea” atau begitu dibaca ujug-ujug sembuh dan menyelesaikan banyak hal ? Juga bukan berdampak “Placebo” yang seolah olah sembuh ternyata bohong ?? atau sembuhnya hanya sesaat ! semuanya masih perlu di mix/diolah dan digodog dengan ramuan yang serbaneka.
Tapi dijamin bagi yang gemar membaca, setidaknya kata-kataku bisa disadur untuk nulis surat …. buat pacar (misalnya : bagi yang mahasiswa, calon mahasiswa atau yang masih pelajar).
Dari sekian banyak posting, bahasa Jawa dan filosofi Jawa mungkin paling banyak yang aku jadikan kutipan penting, ya, karena dari sinilah “keberangkatan toto lahir dan toto batin” saya terlahir.

Aku yang kebetulan adalah cucu laki laki pertama dari Mbah Nggunung dan Mbah Simo (galur murni) yang orang Jawa pribumi asli, dan tentunya aku sangat bangga dengan Jawaku dan aku akan Njiwani Jawa-ku ini. Saking Jawanya…. dimanapun aku pernah bertugas (Aceh, Medan, NTT, Makassar dan dimanapun, aku selalu pakai batik dan berbahasa Jawa).
Daud Nawawi/Dipo Nuswantoro/DN Aidit juga mengatakan : “Barang siapa ingin menguasai Indonesia, maka ia harus menguasai Jawa !. Karena Jawa adalah kunci !!”
Lha bagaimana dengan sikapku pada orang yang bukan Jawa, yang kebetulan bojone mbakyu lan adhiku juga bukan orang Jawa ??
Ya, itu biasa saja, Nasib sudah bicara lain ? dan itu pilihan ?? sing penting podho senenge, berkomitmen untuk membangun dan bukan merusak, juga bukan seolah-olah membangun tapi ternyata merusak ?
Juga sikap hidup dan ideologinya nggak beda-beda amat ! Nah, lebih jelasnya mungkin bagi sedulur2 yang merger/get married dengan sedulur yang dari bukan etnis Jawa, bisa juga tuh untuk urun rembug dan meng-kaya-kan khasanah ideologi kita ??
Posting ini, karena aku awali dengan serat Centhini, dengan maksud, begitulah poro pinisepuh kita memberikan hantaran semangat juang dan daya hidup untuk keturunannya, kepada kita-kita juga….
maka aku tutup dengan Serat/syair lagu Dhandanggulo (bisa juga disebut do’a nya orang Jawa) :
Sakehing loro samiyo bali
Sakehing omo samiyo mirubo
Welas asih pandulune
Sakehing brojo luput
Kadyo kapuk tibaning wesi
Sakehing wiso towo
Sato kurdo tutut
Kayu agung lemah sangan
Soring landak guwaning, mung lemah miring
Nyang pakiponing merak
(maaf belum sempat menterjemahkan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s