Mb@h Roeri Community

Terbaru

Bukan Rumah Mungilnya Mbah Google

rumah-mungil-yang-sehat
Setelah mobil keluarga ideal terbaik indonesia meramaikan dunia SEO Indonesia pada penghujung tahun 2010 ini, ternyata masih ada lagi kontes SEO yang juga menarik untuk dikuti. Adapun kontes yang dimulai 8 November dan berakhir 22 November tersebut diadakan oleh iDEA Online dengan target key word rumah mungil yang sehat.
Bagi saya yang memang lagi belajar alias newbie dengan SEO, kedua kontes tersebut memang menjadi arena untuk mengetahui lebih banyak antara teori yang begitu banyak diberikan oleh para netter dan aplikasinya. Penasaran dengan teori yang bagi saya sulit dipahami serta hasil yang terdisplay di halaman rumah megahnya Mbah Google (bukan rumah mungil) memang menjadikan pengetahuan yang satu ini butuh dipelajari secara khusus dan simultan. Oleh karena itu sengaja saya menggunakan blog si cepot yang benar-benar baru untuk mempelajari ilmu yang satu ini. Akibatnya.. saya jadi ingat blog lama saya ini yang sudah terbengkalai sejak beberapa tahun yang lalu untuk mendukung si cepot.
Dari kedua kontes ini, saya menjadi sedikit tahu bahwa semua itu dibutuhkan waktu khusus dan energi yang sangat luar biasa…itulah mengapa saya sangat salut dengan blogger maupun netter yang mampu menerapkan teori dan aplikasinya sehingga hasilnya bisa terlihat di antrian paling depan di halaman rumah megahnya mbah Google.
Mereka-mereka itu adalah individu yang cerdas, fokus, kreatif dan mempunyai daya tahan yang luar biasa dalam mengelola blog atau webnya pada kontes-kontes tersebut. Teknik dan strategi yang dikombinasikan dengan kreatifitas sepertinya menjadi sinergi yang memberikan hasil positif…paling tidak itulah yang bisa sedikit saya pahami dari pengetahuan dan aplikasi SEO. Sementara sebagian besar masih menjadi misteri untuk bisa berada di antrian rumah megahnya Mbah Google
Kontes rumah mungil yang sehat dan mobil keluarga ideal terbaik indonesia yang waktunya hampir berbarengan ini akan menjadi arena pembuktian bagi daya tahan dan kefokusan para master seo untuk menjadi yang terbaik.
Untuk menjadi yang terbaik dalam kontes ini, semuanya itu by proses..dan hasilnya akan kita lihat beberapa minggu kedepan. Siapa-siapa yang saat ini yang berada di antrian panjang rumah megahnya Mbah Google yang bakalan dinobatkan sebagai putra mahkota..sepertinya kandidatnya sudah mulai terlihat dan dielus-elus.

Mobil Keluarga Ideal Terbaik Indonesia [SEO Award 2010]

Mobil Keluarga Ideal Terbaik Indonesia merupakan kata kunci alias key words untuk kontes SEO yang diadakan oleh Toyota Astra Motor Indonesia sejak7 Oktober 2010 yang lalu. Adapun kontes kali ini berlabel SEO Award 2010. Seo versi Toyota kali ini memang tidak semata-mata kontes SEO tetapi juga memperhitungkan bobot artikel. Namun demikian ini bukan merupakan kontes review mengenai mobil Toyota.Paling tidak itulah yang disampaikan oleh admin ketika banyak pertanyaan terhadap metode penjurian dalam kontes ini.
Pengin sekali saya mengikutinya, tetapi karena belum pernah belajar teknik-teknik SEO maka saya hanya  mendukung para blogger yang lagi berkontes. Saya yakin para pakar SEO akan turun gunung bukan karena  beberapa hari terakhir ini gunung Merapi meletus, tetapi karena hadiah yang diperebutkan memang sangat menggiurkan.Bahkan setiap blogger yang tercatat sebagai peserta berhak mendapatkan T-shirt dari Toyota. Mengasyikkan bukan? Meski tidak menang kontesnya namun berhak mendapatkan hadiah hiburan sebuah T-shirt.Untuk lebih jelasnya silahkan kunjungi ke SEO Award 2010
Sebagai sebuah merk yang begitu dominan di Indonesia sepertinya Toyota juga ingin berbagi kesuksesannya dengan para blogger melalui Seo Award 2010 kali ini. Membenamkan image sedalam-dalamnya kepada pembeli potensial atau calon pelanggan melalui new wave marketing memang menjadi bagian dari strategi pemasaran akhir-akhir ini.Dan Toyota pun melakukannya melalui SEO Award 2010 dengan kata kunci mobil keluarga ideal terbaik Indonesia
Selama ber-kontes semoga sukses

Lebaran 2009

lebaran09

Mbah Kakung & Sebagian kecil anggota MRC - Lebaran 2009

Lebaran 2009 kali ini hampir semua jamaah MRC bisa pulang ke Simo dan berkumpul di home base MRC. Tetapi karena masing-masing dari anggota MRC mempunyai kesibukan dan agenda lebaran yang tidak sama sehingga mereka tidak bisa ngumpul di home base MRC secara bersamaan. Meskipun demikian hal itu tidak mengurangi kemeriahan suasana waktu ngumpul di home base.

Dari seluruh anggota MRC, yang terdiri dari anak, cucu sampai dengan cicit, pada lebaran tahun 2009 kali ini hanya Sekar Arum Tamma Rahmadani (puteri pertama dari Keluarga Sidik Masroeri) dan Keluarga Dyah Purnamaningsih (puteri ke-3 dari Keluarga Ichsanudin Masroeri) yang tidak bisa ikut berkumpul di home base. Sekar Arum sedang belajar di Pondok Pesantren Puteri Gontor dan untuk 2 tahun kedepan tidak diperbolehkan pulang, sedang Dyah sekeluarga pada tahun ini berlebaran di Jambi (di keluarga suaminya).

DSC01209

MRC's girls in action - Lebaran 2008

Catatan Seorang Mat Kodak

arif-slam-his-gadget

Beberapa waktu lalu karena kebutuhan pekerjaan, saya berjalan-jalan ke areal Tempat Pemakaman Umum Bergotta, Semarang saat hari raya pertama lebaran. Wajah-wajah khusyuk ta’zim menyebar dimana-mana. Didepan batu-batu nisan mereka memanjatkan do’a-do’a untuk kedamaian dan keselamatan arwah sanak keluarga yang telah tiada.
Yang tak kalah ramai dari peziarah adalah kerumunan para pengemis yang menghiba meminta sedekah.  Hampir di setiap sudut pemakaman terlihat tangan menengadah. Secara fisik mereka terlihat sehat wal afiat, tampak muda dan bahagia. Namun aktifitas mereka sungguh di luar perkiraan, meminta- minta, mengobral rasa iba.

Karena masih betah mengamati kiri-kanan saya mempersilahkan sepeda motor dibelakang untuk mendahului. Seorang Ibu setengah baya berboncengan sepeda motor dengan suaminya usai berziarah di makam keluarga. Sambil berjalan pelan tangan si Ibu sibuk merogoh kantong plastik membagi-bagikan uang receh kepada para peminta-minta. Bukankah berbagi kebahagiaan di hari kemenangan sangat dianjurkan?! (begitu pikir saya melihat Ibu tersebut)
Tiba-tiba..klunting!! sebuah koin dilemparkan seorang pengemis setengah tua kepada si ibu pembagi uang receh tersebut sambil mulutnya tak henti-hentinya mengumpat.
“Duit seket rupiah kok di kek-kekne!.. dinggo opo duwit sepethil!” (uang lima puluh rupiah kok dikasihkan orang! Buat apa uang segitu!).

Saya terperanjat, heran, ngeri dan kagum melihat perilaku pengemis tersebut.
Betapa beraninya seorang pengemis mengumpat dan melempar sipemberi sedekah, tanpa sungkan, tanpa rasa malu. Derajat pengemis yang menghiba-hiba tangannya selalu dibawah menengadah seolah-olah lebih tinggi dari si pemberi sedekah. Untung si Ibu tersebut tidak sadar kalau dilempar dan diumpat pengemis tersebut. Kalau si Ibu tersebut tahu,..bisa-bisa ia marah dan ganti mengumpat pengemis tersebut. Kalau sudah begitu niatnya bersedekahkan jadi berkurang. Sekali lagi, beruntung si Ibu tersebut tidak sadar kalau sedang dikasari.

Adalagi cerita tentang perilaku masyarakat kita yang konon katanya penuh sopan santun adat ketimuran. Saat bulan puasa lalu, ketika sejumlah harga kebutuhan sembako melambung mengikuti tingginya permintaan. Tak terkecuali harga gula pasir yang dengan tajam mengalami kenaikan. Dinas terkaitpun sigap membuat acara operasi pasar. Kupon pembelian gula pasir untuk warga miskinpun lantas disebar.
Tiba saat pelaksanaan, sejumlah ibu-ibupun ramai membeli gula pasir dengan harga jauh lebih murah dari harga dipasaran. Dari kerumunan terlihat ada sejumlah ibu-ibu yang nampak berbeda. Penampilan dan caranya berpakaian terkesan bersih, rapi berwibawa menunjukkan tingkat stratanya di masyarakat. Sayapun tertarik untuk mendekat dan mengabadikannya dengan kamera. Tiba-tiba tahu kalau di potret ibu-ibu tersebut cepat memalingkan muka sambil berujar “ojo difoto mas, aku udu wong kere lho” (jangan di foto mas, aku bukan orang miskin lho)

Aneh ya!. Padahal mereka juga tahu kalau OP gula pasir tersebut diperuntukkan bagi mereka masyarakat golongan miskin. Tapi kok mereka yang tidak miskin mendapatkan kupon, mau membeli tapi tidak mau mengakui miskin.

Bangsa ini memang benar-benar sedang sakit, tidak pemimpinnya, tidak rakyatnya semua sakit kehilangan nuraninya. Hebatnya.. kita tidak pernah merasa kalau terus digerogoti penyakit.

Spirit yg dicontohkan mendiang Mbah Putri

Pohon Kurma yang ditanam mendiang Mbah Putri

Pohon Kurma yang ditanam mendiang Mbah Putri

Empat hari menjelang lebaran kemarin, kami pulang ke Simo. Agenda utama kami adalah untuk menengok Mbah Kakung dan Nyadran/Tilik Kubur-nya Mbah Putri, Mbak Isti dan Mas Wasid. Selain itu kami maksudkan utk merasakan suasana puasa romadlon di kampung halaman dan bersih2, merapikan rumah masa kecil kami menjelang lebaran. Saat Lebaran, rumah kami biasanya akan ramai oleh kehadiran anak cucu Muh Masroeri yang kami sebut mrc. Oleh karena itu biasanya keluarga yang dekat dengan rumah Simo pada menyempatkan pulang terlebih dahulu untuk mempersiapkan segala sesuatunya menghadapai Lebaran, baik dari kebersihan sampai dengan persiapan logistiknya. Maklum kami memang keluarga besar.

****

Seperi tahun2 sebelumnya, kebiasaan utk bisa menikmati suasana romadlon memang selalu kami sempatkan barang 1-2 hari. Secara pribadi itu merupakan bagian dari bernostalgia, mengenang lagi masa2 kecil dimana setiap bulan romadlon suasananya begitu menyenangkan. Secara keluarga, merupakan bentuk silaturrahmi dan menikmati suasana yang lain dari biasanya serta pembelajaran bagi kami sekeluarga.
Minggu dini hari menjelang waktu Sahur, kami tiba di rumah Simo. Suasana diluar cukup semarak oleh aktivitas remaja masjid. Pada waktu menjelang sahur, para remaja dengan bersemangat membangunkan masing2 keluarga dengan bunyi-bunyian yang berirama sambil berkeliling kampung. Suasana demikian memang tidak pernah kami rasakan di lingkungan kampung kami saat ini.
Setelah makan sahur dan sholat subuh di masjid Baiturrahman yang berjarak 100 meter dari rumah, saya langsung tidur, sementara mas Fikri dan mamanya sudah pulas semenjak di perjalanan. Isteri saya memang sengaja tidak makan sahur karena ketika berangkat dari Semarang sudah menyempatkan makan sahur terlebih dahulu untuk antisipasi kalau tidak sempat makan Sahur di Simo karena ngantuk dan capek.
Menjelang siang, kami mulai bersih-bersih dan merapikan rumah, sementara mas Fikri asyik bermain sambil menonton TV.

@@@@

Sore harinya ketika kami masih asyik dengan aktivitas bersih-bersih, tiba-tiba ada tamu yang menemui saya disamping rumah. Tanpa berbasa basi, tamu itu langsung menanyakan apakah pohon kurma yang berada di sudut selatan depan rumah kami dijual. Sejenak saya tertegun dan baru menyadari bahwa pohon yang mirip dengan palm tersebut ternyata adalah pohon kurma. Sekedar ingin tahu..kemudian saya tanyakan dengan harga berapa tamu itu mau membelinya. Tamu itu kemudian menjawab “300 ribu” dan akan memberi ganti dengan pohon kurma yang masih kecil.
Mengingat pohon kurma itu adalah pohon kurma kedua yang ditanam oleh mendiang Mbah Putri, maka saya tolak tawaran dari tamu itu.
Memang sebelumnya Mbah Putri juga pernah menanam pohon kurma dengan cara menyebar biji kurma di halaman belakang rumah. Dari beberapa biji tersebut ternyata ada satu yang tumbuh dan dirawat sampai diameter batangnya kurang lebih sekitar 60 cm.
Pada waktu itu juga ada beberapa orang yang ingin membelinya dengan alasan yang bermacam2. Padahal pohon kurma itu tumbuh di belakang rumah, artinya tidak mudah terlihat oleh orang yang lewat. Karena merupakan tanaman yang langka, maka waktu itu kami anak-anaknya meminta kepada orang tua kami utk tidak menghiraukan tawaran dari pembeli.
Namun setelah kedua orang tua kami diberi kesempatan untuk menunaikan Ibadah Haji pada tahun 1996 dan bisa melihat secara langsung pohon Kurma di tanah Arab, pada akhirnya pohon kurma itu di jual dengan harga 750ribu. Itupun setelah pembelinya begitu rajin menawar dan mendatangi kedua orang tua kami, meskipun sebenarnya kami anak2nya menyayangkan keputusan itu.
Mungkin karena itu, mendiang Mbah Putri kemudian berusaha untuk menanam pohon Kurma lagi sebagai gantinya. Alhamdulillah ternyata pohon Kurma yang disemai dari biji oleh mendiang Mbah Putri pada waktu itu, hingga sekarang tumbuh semakin besar dan menghiasi sudut depan halaman rumah Simo kami.

&&&&

Nilai Spiritual yang bisa menjadi inspirasi kami dari apa yang telah dilakukan oleh mendiang Mbah Putri dengan Pohon Kurmanya adalah :

“Betapa Ibu kami, Mbah Putri, Pepunden kami adalah sosok orang tua yang begitu gigih dan penuh semangat dalam berusaha. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilannya menanam dan merawat pohon Kurma yang nota bene merupakan tanaman langka di Indonesia dan tidak semua orang bisa melakukannya”
Mudah-mudahan kami anak cucunya bisa merawat dan menjaga Pohon Kurma tersebut sebagai pengingat serta mewarisi semangat dan kegigihan Orang Tua kami, Simbah kami, Pepunden kami, dalam menghadapi & menjalani kehidupan ini. Amin

knowledge is power

Itulah kalimat dalam bahasa inggris yang pertama kali aku tulis di lembaran buku tulisku, di lembaran sobekan kertas, di dinding kamarku, atau di mana saja layaknya sebuah graffiti, saat itu saat dimana aku masih ingusan. Bukan kalimat “I love you” atau kalimat cinta dalam bahasa inggris yang lainnya, yang pada umumnya banyak dituliskan atau digoreskan oleh anak2 seusiaku pada saat itu.
Biasanya, tulisan itu aku buat dengan model dan design yang khusus, agar terlihat mencolok dan bagus.
Kalimat itulah yang menginspirasi diriku saat itu untuk belajar atau menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh serta tidak mau ketinggalan dengan teman2 yang lain dalam hal-hal baru. Dan sosok yang mempengaruhi dan menjadi isnpirasi pada masa kecilku adalah mas Bowo.
Layaknya sebagai sebuah agen perubahan, mas Bowo memang banyak sekali mengenalkan aku dengan hal-hal baru yang oleh anak2 desa pada saat itu adalah sesuatu yang tidak mudah mendapatkannya.
Mas Bowolah yang selalu mengajak aku belajar dengan konsentrasi penuh, bahkan untuk yang satu ini minum Cerebrovit adalah kebiasaannya yang dilakukan pada saat mau belajar. Mengenalkan aku membaca Koran, belajar naik sepeda motor dengan Honda C70, mendengarkan lagunya Iwan Fals dalam album Perjalanan, lagunya Chandra Darusman, atau mengenalkan aku dengan mainan baru yang tidak biasa dimainkan oleh anak-anak di desaku pada saat itu, seperti main scrable, magic box, sepatu roda, dsb. Banyak sekali hal-hal atau pengetahuan baru yang aku peroleh dari mas Bowo, dan salah satunya adalah motonya orang bule yang aku tulis sebagai judul postingan ini.
Ilmu Pengetahuan adalah Kekuasaan, begitulah arti yang aku pahami pada saat itu setelah dikasih tahu tentunya. Terjemahan bebasnya kurang lebih: dengan menguasai ilmu pengetahuan maka kita akan mempunyai kekuasaan atau kekuatan. Sejak saat itu hingga sekarang ini, rangkaian kalimat itu memang telah menginspirasi dan memberi motivasi aku untuk belajar, bukan hanya sekedar belajar dari arti formal, tetapi belajar dalam lingkup yang lebih luas, belajar untuk kehidupan lebih baik.
Belajar atau menuntut ilmu agar tidak terkungkung layaknya katak dalam tempurung. Belajar untuk bisa setara atau lebih baik dari orang lain. Belajar untuk tidak “meremehkan atau diremehkan” oleh orang lain. Belajar agar eksistensi/keberadaan kita diakui, dimanapun kita berada.
Bahkan agama kita pun mewajibkan kita untuk belajar/menuntut ilmu dengan tidak mengenal batasan ruang dan waktu sebagaimana Hadist Nabi Muhammad SAW : “Tuntutlah Ilmu hingga ke negeri China” dan “Menuntut Ilmu itu hukumnya wajib bagi umat Islam sejak dari buaian hingga liang lahat”. Melalui hadist tersebut, Rasulullah telah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa belajar/menuntut ilmu tanpa mengenal batasan ruang dan waktu (baca: usia) sampai kita menutup mata untuk kembali kepada-Nya.
Artinya, semangat untuk belajar/menuntut ilmu adalah hal yang mendasar yang telah diperintahkan oleh Rasulullah kepada kita. Itulah yang aku yakini mengapa orang tua kita, simbah kita tercinta begitu gigihnya untuk bisa membekali anak2nya dengan Ilmu dan memotivasi cucu2nya agar sekolah/kuliah/belajar dengan benar dan bertanggung jawab, tetap fokus meski berhadapan dengan keterbatasan finansial atau dengan kata lain pas-pasan. Meski secara finansial kita kekurangan disana-sini, tetapi semangat untuk belajar jangan pernah sampai kekurangan atau hilang sama sekali.
Tahun ini adalah tahun dimana generasi pertama dari Mbah Roeri telah berhasil memasuki babak baru dalam mengenyam pendidikan formal S2. Adalah Lilik dan Yanuar, meski melalui jalan atau fasilitas yang berbeda. Pada saatnya nanti bukan tidak mungkin bila anggota keluarga dari Mbah Roeri Community yang lain akan bisa belajar di luar negeri seperti yang pernah dirasakan oleh Jabirosidik, atau bekerja di luar negeri seperti Agus Cahyono sekarang ini.
Aku sendiri dulu pernah berusaha untuk bisa ke jenjang pendidikan S2, hanya saja dengan cara menggabungkan S1 + S1 (ha ha ha), alias belajar untuk jenjang S1 di dua universitas yang berbeda, sayang pada akhirnya dengan sendirinya aku harus mengundurkan diri dari UGM oleh karena keterbatasanku.
Tulisan ini memang aku khususkan kepada orang-orang yang tidak pernah mengenal lelah untuk belajar, orang yang selalu menjaga spiritnya untuk tetap bisa menuntut ilmu dan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, orang-orang yang tidak ingin ketinggalan dan ditinggalkan peradaban, orang-orang yang dengan ilmunya itu bermanfaat dan memberi manfaat bagi orang-orang dilingkungannya.
Untuk Yanuar dan Lilik, selamat atas keberhasilannya meneruskan jenjang pendidikan S2-nya. Demikian pula untuk Mbak Sih yang dengan semangatnya sedang berusaha menyelesaikan S1, disaat usia sudah tidak muda lagi.
Dan untuk generasi muda MRC, selamat bagi yang naik kelas, profisiat (pf) bagi yang memasuki jenjang pendidikan lebih tinggi, jaga semangat bagi yang sedang mengejar target. Marilah kita semangati diri kita sejak dini untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan dapat dipertanggung jawabkan, agar nantinya kita bisa berhasil dalam pendidikan maupun dalam kehidupan.
Bukankah Knowledge is Power????

Njiwani & Njawani

Kaweruh keslametan diri
Sasanti kapribaden poro leluhur
Sugih tanpo bondho
Digdoyo tanpo aji
Nglurug tanpo bolo
Menang tanpo ngasorake
Timah mawi pamrih
Suwung pamrih tebih ajrih
Langgeng tan ono susah
Langgeng tan ono bungah
anteng mantheng sugeng jeneng
(Pambukane serat “Centhini” karya Raden Ngabehi Yosodipuro I)
Terjemahan bebasnya kira kira :
Pengetahuan tentang keselamatan diri
Yang dituturkan dan menjadi kepribadian para leluhur adalah :
Kaya tapi bukan lantaran harta,
Berkuasa tapi tidak dengan senjata,
Mengembara tanpa bantuan siapapun,
Memenangi perjuangan tanpa menistakan orang lain.
Berbuat tidak karena pamrih/ingin di anggap berjasa dan,
Berani berbuat tanpa rasa takut.
Selamanya tidak pernah berputus asa,
Selamanya pula tidak berbesar kepala.
Tapi selalu bertahan dan berjuang untuk menjaga martabat dan kehormatan.

Sejak menjadi aktivis dulu (di HMI dan di Kampus), saya dikenal sebagai seorang Ideolog yang gemar merombak, mengobrak abrik, ngadul adul, memporak porandakan pikiran orang (brain washing) untuk selanjutnya memasukkan kembali ideologi yang selama ini aku yakini dan aku pegang sebagai pedoman moral, pedoman nilai dan pedoman aktivitas keseharian (brain storming). Dan sampai sekarang aku meyakini ideologi itu masih bisa bertahan, lentur luwes dan peka terhadap perubahan dan perkembangan jaman.
Aku memang tidak jualan ideologi, karena ideologi adalah hak asasi. Aku juga tidak sedang meng-iklan-kan ideologi. Karena ideologi apapun boleh dianut siapapun ?? bahkan aku juga tidak dongkol jika orang memandangku ber-ideologi :
Otak : Sosialis
Perut : Kapitalis
Tulisan Inipun juga tidak dimaksudkan untuk melakukan brain washing alias men-cuci otak siapapun. Saya hanya ingin katakan setidaknya sejak di bangku SMA dulu (intelektualitas-ku terlahir) sampai hari ini saya masih Istiqomah dengan apa yang aku yakini itu. Dan aku bukan termasuk orang bermasalah, yang senang cari masalah, apa lagi jadi masalah. Aku cukup jadi orang biasa saja, I’m Just an ordinary man.
Dari beberapa posting selama ini, terkadang aku menggunakan :
Ayat-ayat Al Qur’an
Sunnah dan Hadist
Filosofi Romawi Kuno
Filosofi China/Tiongkok
Kata kata pinjaman dari Sukarno,
Syair lagu Rhoma Irama
Puisi WS. Rendra
Tetralogi Laskar Pelangi
Syair lagu Dhani Ahmad
Kutipan buku buku terkenal
Kutipan tokoh tokoh populer
Puisi Khairil Anwar
Serat kejawen
Ilmu titen, dan lain lainnya
bahkan juga dari banyolan banyolan nggak karuan rimbanya ….

Tentu saja ini bukan “Panacea” atau begitu dibaca ujug-ujug sembuh dan menyelesaikan banyak hal ? Juga bukan berdampak “Placebo” yang seolah olah sembuh ternyata bohong ?? atau sembuhnya hanya sesaat ! semuanya masih perlu di mix/diolah dan digodog dengan ramuan yang serbaneka.
Tapi dijamin bagi yang gemar membaca, setidaknya kata-kataku bisa disadur untuk nulis surat …. buat pacar (misalnya : bagi yang mahasiswa, calon mahasiswa atau yang masih pelajar).
Dari sekian banyak posting, bahasa Jawa dan filosofi Jawa mungkin paling banyak yang aku jadikan kutipan penting, ya, karena dari sinilah “keberangkatan toto lahir dan toto batin” saya terlahir.

Aku yang kebetulan adalah cucu laki laki pertama dari Mbah Nggunung dan Mbah Simo (galur murni) yang orang Jawa pribumi asli, dan tentunya aku sangat bangga dengan Jawaku dan aku akan Njiwani Jawa-ku ini. Saking Jawanya…. dimanapun aku pernah bertugas (Aceh, Medan, NTT, Makassar dan dimanapun, aku selalu pakai batik dan berbahasa Jawa).
Daud Nawawi/Dipo Nuswantoro/DN Aidit juga mengatakan : “Barang siapa ingin menguasai Indonesia, maka ia harus menguasai Jawa !. Karena Jawa adalah kunci !!”
Lha bagaimana dengan sikapku pada orang yang bukan Jawa, yang kebetulan bojone mbakyu lan adhiku juga bukan orang Jawa ??
Ya, itu biasa saja, Nasib sudah bicara lain ? dan itu pilihan ?? sing penting podho senenge, berkomitmen untuk membangun dan bukan merusak, juga bukan seolah-olah membangun tapi ternyata merusak ?
Juga sikap hidup dan ideologinya nggak beda-beda amat ! Nah, lebih jelasnya mungkin bagi sedulur2 yang merger/get married dengan sedulur yang dari bukan etnis Jawa, bisa juga tuh untuk urun rembug dan meng-kaya-kan khasanah ideologi kita ??
Posting ini, karena aku awali dengan serat Centhini, dengan maksud, begitulah poro pinisepuh kita memberikan hantaran semangat juang dan daya hidup untuk keturunannya, kepada kita-kita juga….
maka aku tutup dengan Serat/syair lagu Dhandanggulo (bisa juga disebut do’a nya orang Jawa) :
Sakehing loro samiyo bali
Sakehing omo samiyo mirubo
Welas asih pandulune
Sakehing brojo luput
Kadyo kapuk tibaning wesi
Sakehing wiso towo
Sato kurdo tutut
Kayu agung lemah sangan
Soring landak guwaning, mung lemah miring
Nyang pakiponing merak
(maaf belum sempat menterjemahkan)